Endang Sri Lestari, Guru SLB Yaketunis : Loyalitas adalah Kuncinya - blptjogja.or.id DETAIL RUBRIK 02 September 2015 05:09 WIB, oleh : m.tok, dibaca : 3580kali

Endang Sri Lestari, Guru SLB Yaketunis : Loyalitas adalah Kuncinya


Bagikan tautan :

Dinas Dikpora DIY- Menjadi guru membutuhkan loyalitas yang tinggi. Apalagi jika menjadi Guru Sekolah Luar Biasa. Perlu kesabaran dan kemampuan yang luar biasa pula untuk bisa mengajar disana. Terlebih jika Guru tersebut tidak berasal dari jurusan Pendidikan Luar Biasa, pastilah kesulitan-kesulitan dan tantangan banyak yang menghadang.

Demikianlah yang terjadi pada Endang Sri Lestari, M.Si. Wanita kelahiran Sukoharjo, 20 September 1976 ini pertama kali masuk bekerja sebagai Guru Pembimbing Khusus di SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta (inklusi) pada tahun 2004 dengan induknya di SLB Pembina. Sebelumnya pada tahun 2001 hingga 2002, ia mengajar sebagai Guru Biologi di SMA Binatama Sleman, sesaat setelah ia lulus dari S1 Biologi UNY di Tahun 2000.

Pada tahun 2008 hingga saat ini, ia mengajar di SLB Yaketunis, SLB yang seluruh siswanya merupakan siswa tunanetra. Selain itu, setelah ia lulus S2 Psikologi UAD di tahun 2011, pada tahun itu pula ia diminta untuk mengajar Fisiologi di Fakultas Psikologi UAD.

Diceritakannya, pada saat pertama kali mengajar di SLB, motivasinya adalah hanya pada pekerjaan semata. Tetapi kemudian setelah di lapangan ia bertemu dengan anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus, barulah nuraninya tergerak. Ia merasa anak-anak itu membutuhkan dukungan dari orang-orang yang mempunya kapabillitas khusus.

"Guru di PLB harus mempunyai aspek pedagogis, sosial, profesional, personal yang diperlukan oleh Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Jika dibandingkan dengan anak-anak di reguler wajar saja jika mereka berhasil karena memang inputnya bagus, kapasitas intelektual mereka cukup. Tetapi untuk ABK betul-betul perlu intervensi yang sesuai dengan karakteristik mereka. Kalau kita tidak paham dengan mereka, tidak paham pendekatan yang sesuai untuk mereka, tidak paham media yang digunakan sebagai sarana pembelajaran yang tepat, maka hasil pendidikannya pun tidak akan maksimal", jelasnya.

"Saya basiknya dari pendidikan umum, tidak mengerti karakteristik mereka, maupun bagaimana berhadapan dengan ABK. Pada ABK, dalam 1 kelas saja jika ada 2 orang yang berbeda, butuh pendekatan yang berbeda dan cara mengajar yang berbeda, padahal itu tidak diajarkan di kuliah non-PLB. Maka saya banyak belajar dari pengalaman, serta dari teman-teman yang memang berasal dari kuliah PLB", lanjutnya.

Dengan kondisi seperti itu, ia pun memiliki pengalaman yang tak terlupakan. Ia pernah dibohongi oleh siswa. Pada saat ia pertama kali datang ke Yaketunis, memang ia belum memiliki kemampuan untuk membaca tulisan braile. Siswa pun tahu kalau Endang belum memiliki kemampuan membaca braile. Namun diam-diam Endang belajar braile setelah mendapat tugas belajar dari Dinas Dikpora DIY, yakni pendidikan profesi Braille 1 tahun di UNY. Pada saat akhirnya ia menguasai braile, ia melihat apa yang ditulis siswa dengan apa yang disampaikannya jauh berbeda.

"Pada saat membuat tagihan soal-soal ujian, suatu hari ada anak yang tulisannya salah. Saya pun menegurnya, dan dia pun berbisik-bisik dengan temannya,  "Eh ternyata Bu Endang sekarang sudah mengerti Braile, sudah tidak bisa ditipu". Saya pun hanya tertawa saja, entah sudah berapa tahun mereka menipu saya. Tetapi ini menjadi pemicu saya untuk berkembang lagi, dan menguasai apa yang mereka butuhkan, termasuk braile", ungkapnya.

Pada saat ditanya pengalaman tak terlupakan lain yang pernah ia alami saat mengajar di SLB, wanita yang pernah menjuarai Lomba Karya Tulis Guru SLB tingkat DIY ini menceritakan mengenai pengalamannya ketika diundang untuk datang pada pelatihan penyusunan draft pembelajaran untuk anak C1 (tunagrahita yang sudah berat) pada awal tahun 2005.

"Saat itu panitia membentuk kelompok acak dari peserta dan diberi tugas untuk menyusun kurikulum. Kelompok saya mendapat tugas menyusun kurikulum program bina diri. Dan secara kebetulan, semua anggota kelompok saya adalah guru-guru yang berasal dari jurusan non-PLB", jelasnya.

"Kesalahan fatal kami adalah pada saat presentasi, kami membuat program untuk membaca. Padahal anak C1 dengan IQ 25-30, sama sekali tidak bisa membaca. Anak-anak C1 hanya mampu latih, tidak bisa diintervensi pendidikan. Pada saat saya menyampaikan hal itu, tiba-tiba ada salah satu peserta yang bilang, bahwa saya tidak loyal di PLB. Kata-kata itu terus terpikirkan oleh saya. Saya terus memikirkan hingga saat ini, indikator loyal itu apa. Namun kata-kata itu pulalah yang saya jadikan pijakan hingga saat ini untuk harus berbenah terus, bahwa saya harus loyal kepada PLB", tuturnya. (m.tok)


Komentar sosok

Tokoh Lain Kembali ke atas

BALAI LATIHAN PENDIDIKAN TEKNIK ( BLPT ) YOGYAKARTA - WWWW.BLPTJOGJA.OR.ID
Kantor : Jl. Kyai Mojo 70 Yogyakarta 55243 - Indonesia Telp. (0274) 513036
Copyright © 2015 .Hak cipta dilindungi undang-undang.