Prof. Suwarsih Madya, Ph.D.: Dari Tempel hingga Australia - blptjogja.or.id DETAIL RUBRIK 19 Mei 2011 05:05 WIB, oleh : m.tok, dibaca : 1866kali

Prof. Suwarsih Madya, Ph.D.: Dari Tempel hingga Australia


Bagikan tautan :

Prof. Suwarsih Madya, Ph. D. Ya, siapa yang tidak kenal sosoknya. Wanita kelahiran Sleman, 15 Juli 1952 ini adalah mantan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda Dan Olahraga Provinsi DIY periode 2008-2010.

Suwarsih kecil memulai pendidikannya di tahun 1958, dengan masuk ke Sekolah Rakyat (SR) Krisa, Banyurejo, Tempel, Sleman. Selanjutnya 6 tahun kemudian, tepatnya di tahun 1964, Suwarsih meneruskan pendidikannya ke SMP 1 Sleman hingga tahun 1967.

Di tahun 1967, Suwarsih melanjutkan pendidikannya ke SPG Negeri 1 Yogyakarta, yang dahulu menempati bangunan yang saat ini dipakai oleh SMA N 11 Yogyakarta. Dengan didikan untuk menjadi seorang guru, disinilah ia mulai mempelajari ilmu jiwa dan sopan santun, yang kelak sangat berguna baginya untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki karakter luhur.

Saat-saat hendak menyelesaikan studinya di SPG, Suwarsih mengalami kebingungan. Ia bingung, apakah akan melanjutkan pendidikan diantara empat bidang yang disukainya, yakni ilmu jabar, ilmu ukur, ilmu alam dan Bahasa Inggris, atau cukup dengan predikat calon guru dari ijazah SPG yang dimilikinya.

Di saat kebimbangan inilah, ia bertemu dengan Dra. Hartini Sarjono, guru Bahasa Inggris di SPG N 1 Yogyakarta. Hartini yang juga dosen Sospol UGM, menemukan sosok yang brilian dibalik diri Suwarsih. Ia pun lalu mengasahnya.

“Waktu itu Bu Hartini meminta saya untuk membantu membuat buku Bahasa Inggris berjudul ‘Progressive Course’. Beliau tidak hanya meminta saya untuk membantunya, tetapi Beliau juga membimbing saya. Selama 6 minggu atau 45 hari, setiap hari Bu Hartini tanpa kenal lelah mengajarkan kepada saya tentang ilmu-ilmu Bahasa Inggris untuk menyusun buku tersebut”, ungkap istri dari Drs. Suprihatin Hudiwiharso ini.

Setiap hari, Suwarsih harus menyelesaikan 1 mata pelajaran. 50 kata per hari menjadi daily food-nya.

“Bu Hartini mendiktekan 50 kata setiap hari kepada saya, saya pun menulisnya, sembari saya artikan”, lanjutnya.

Seselesainya pembuatan buku ini, dan dengan dorongan yang kuat dari Bu Hartini, Suwarsih pun dengan mantab melanjutkan studinya ke Fakultas Keguruan Sastra dan Seni IKIP Yogyakarta jurusan Bahasa Inggris. Ia pun tidak akan pernah melupakan pesan yang pernah disampaikan oleh Dra. Hartini Sarjono kepadanya.

“Sih, janganlah kamu jadikan penguasaan Bahasa Inggris sebagai tujuan akhir bagimu. Tapi jadikanlah penguasaanmu pada Bahasa Inggris, sebagai alat untuk mencari ilmu lebih lanjut”, pesan Hartini yang ditirukan dengan fasih oleh Suwarsih Madya.

Di tahun pertamanya melanjutkan studi di IKIP, ia termasuk beruntung. Ada 2 dosen dari New Zealand yang mengajarnya. Sehingga saat itu, selain Bahasa Indonesia dan Agama, semua pelajaran disampaikan dengan menggunakan bahasa dan logat asli Inggris, langsung dari lidah orang asing.

“Disinilah saya berjuang untuk menguasai pronunciation atau intonasi nada dalam pelafalan kata Bahasa Inggris. Untung saja gurunya encouraging, mereka mampu memberi modal kepada kami untuk confindence. Sehingga di tahun pertama, saya sudah dapat menguasai sistem sound dalam Bahasa Inggris”, jelas ibu dari Arif Harsoyo, S.Si. dan Fikriatun Hidayati.

Tahun 1974 ia mampu memperoleh gelar Bachelor of Art (B.A.) dan di tahun 1976 ia mampu menyelesaikan kuliahnya. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi dosen di jurusan yang sama.

Di tahun 1981, Suwarsih mendapatkan beasiswa S2 ke Macquarie University Sydney Australia. Ia dapat menyelesaikan kuliah S2-nya, hanya dalam kurun waktu 2 tahun. Tahun 1983, sebenarnya ia telah mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan S3-nya di tempat yang sama. Akan tetapi karena beasiswa dari Bank Dunia tak kunjung cair, akhirnya Suwarsih memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Pada tahun 1984, beasiswa yang ia tunggu-tunggu akhirnya cair. Suwarsih lantas meneruskan studi S3-nya di Macquarie University, hingga selesai di tahun 1987.

“Saat di Australia, saya lebih banyak bergaul dengan orang-orang non Indonesia. Pertama tujuan saya untuk melatih kemampuan Bahasa Inggris saya. Kedua, untuk menambah wawasan saya. Sehingga saya pun belajar, agar tidak merasa besar, karena ada mereka di luar sana yang jauh lebih besar”, ungkapnya.

Ia belajar bagaimana cara dan pola makan mereka yang ternyata sangat menyehatkan. Namun di lain pihak, Suwarsih juga mempromosikan Indonesia kepada para koleganya itu. “Saya gencar mempromosikan dan mengenalkan tulisan Jawa kepada mereka”, kenangnya.

Seusai menempuh pendidikan S3-nya, Suwarsih lalu didaulat untuk menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan kerjasama Indonesia-Thailand di Bangkok, Thailand, dari tahun 1995 hingga 1999.

Di tahun 1999, ia pun kembali ke kampus, dan menjadi Asisten Direktur 2 di Program Pascasarjana UNY. Jabatan ini ia pegang hingga tahun 2002, karena di tahun 2002, ia ‘dipinjam’ oleh Kemendiknas untuk menjadi pejabat di Biro Kerjasama Luar Negeri (BKLN) dan Humas Kemendiknas Jakarta. Di Biro ini, ia banyak ditugaskan ke luar negeri.

Suwarsih belajar banyak dari penugasannya ke luar negeri ini. Selain belajar toleransi tinggi yang diterapkan disana, ia juga belajar mengenai penerapan manajemen pendidikan di luar negeri.

“Sebenarnya kita punya peluang besar, tetapi salah manajemen. Contoh saja Thailand. Mereka hanya mempunyai SDM dan peluang yang kecil, tetapi manajemennya dikelola dengan sangat baik”, ujarnya.

Pengalaman meng-handle manajemen pendidikan ini, membuatnya ditugasi untuk mendesain pendidikan di Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur pada tahun 2007. Ia pun tak sungkan menceritakan pengalaman menarik selama disana.

“Untuk sampai ke Kukar, kita harus menempuh perjalanan melalui Sungai Mahakam. Saya pernah meminta untuk diantar ke daerah paling ujung di Kukar, yakni di Tabang dan bertemu dengan orang-orang Dayak. Yang membuat miris disana, ketika banjir tiba, sekolah-sekolah yang letaknya di pinggir Sungai Mahakam tidak akan buka selama 2 hingga 3 bulan sampai banjir surut. Tetapi ikan disana sungguh luar biasa, besar-besar dan mudah ditangkap”, ujarnya sambil tertawa.

Suwarsih hanya satu tahun di Kukar, karena di tahun 2008, ia mendapat kehormatan untuk menjadi orang tertinggi di jajaran Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY.

“Saya menikmati pekerjaan di Dinas Dikpora DIY. Saya bisa berkomunikasi dengan guru, dan belajar untuk mengingatkan saat mendidik”, tutur Suwarsih.

Suwarsih pun memiliki kesan tersendiri di Dikpora DIY. “Staff memiliki potensi yang bagus, tetapi pekerjaan menuntut mereka kerja keras, sehingga mengurangi waktu untuk membaca. Perlu ada strategi untuk belajar sambil bekerja. Saat itu, saya memaksa orang-orang untuk membaca, sehingga dulu ada Seksi yang pernah menerbitkan buku pintar untuk para pegawai di lingkungan Dinas Dikpora DIY”, ungkapnya.

Saat diminta pesannya untuk Dinas Dikpora DIY, Suwarsih pun tanpa ragu memberinya. “Jadilah teladan dalam hal pembelajaran. Perkuat jati diri, orang dinas dan guru harus dicontoh, baik di tempat kerja maupun di masyarakat. Mereka harus mendalami betul kehidupannya. Mereka juga harus membuang nilai-nilai yang mengganggu. Sebagaimana pesan yang juga pernah disampaikan Alvin Toffler; Orang yang buta huruf di abad ini, bukan orang yang tidak bisa baca-tulis, tetapi orang yang tidak mau belajar, tidak mau mempelajari kembali nilai-nilai yang sudah ada, serta tidak mau membuang nilai-nilai yang mengganggu, atau dalam Bahasa Inggris disebut learn, relearn dan unlearn”, pesan Prof. Suwarsih Madya, Ph.D. (m.tok)


Komentar sosok

Tokoh Lain Kembali ke atas

BALAI LATIHAN PENDIDIKAN TEKNIK ( BLPT ) YOGYAKARTA - WWWW.BLPTJOGJA.OR.ID
Kantor : Jl. Kyai Mojo 70 Yogyakarta 55243 - Indonesia Telp. (0274) 513036
Copyright © 2015 .Hak cipta dilindungi undang-undang.